Wilayah Karhutla Menjadi Lebih Baik Setelah Turun Hujan Terutama Udarannya

Wilayah Karhutla Menjadi Lebih Baik Setelah Turun Hujan Terutama Udarannya

Berita Terbaru – Hujan dengan intensif ringan sampai lebat di daerah terimbas kebakaran hutan serta lahan ( karhutla) cukup menolong turunkan jumlahnya titik panas serta konsentrasi debu polutan. Data dari Bagian Klimatologi BMKG mengatakan jika Jambi serta Riau telah memperoleh 1-5 hari hujan. Sesaat Kalimantan Barat serta Tengah baru turun hujan dalam beberapa waktu paling akhir. Tempo hari, Sabtu (28/9/2019), Stasiun BMKG Jambi mencatat curah hujan 11 mm/hari.

Wilayah Karhutla Menjadi Lebih Baik Setelah Turun Hujan Terutama Udarannya

Sedang di Stasiun Juwata, Kalimantan, hujan tertera 19 mm/hari. Di Jawa, banyak wilayah yang sampai kini dirundung kekeringan juga rasakan hujan seperti di Semarang serta wilayah selatan Jawa Barat. Walau belum dengan iklim disebutkan masuk awal musim hujan.

Hujan disebabkan oleh unsur alam serta bikinan. Unsur alam sebab menambahnya supply massa uap air serta kelembaban udara ke arah waktu peralihan musim. Unsur bikinan sebab pekerjaan penyemaian awan, atau arti teknisnya modifikasi cuaca hujan bikinan. Dalam soal pekerjaan hujan bikinan itu, BMKG menyiapkan data serta info keadaan cuaca yang dipakai jadi basic serta ketentuan penyemaian awan dengan pokok kondensasi berbentuk garam dari pesawat.

Berdasar info terbaru keadaan atmosfer serta perkiraan kekuatan tempat tumbuhnya awan hujan, Balai Besar Tehnologi Modifikasi Cuaca BPPT sudah melakukan penyemaian awan di Riau. Selanjutnya bersambung di sejumlah daerah lain seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, serta Kalimantan Tengah.

Hasil monitoring jumlahnya hotspot di Sumatera serta Kalimantan sepanjang dikerjakan Tehnologi Modifikasi Cuaca, jumlahnya hotspot alami penurunan mencolok bila satu hari awalnya berlangsung hujan dengan rasio luas. Berarti, hujan ialah jalan keluar paling efisien dalam kurangi musibah kebakaran rimba.

Untuk memberi dukungan Tehnologi Modifikasi Cuaca, BMKG terus meningkatkan produk info baru. Produk paling baru yang dibikin BMKG terkait dengan hal itu ialah “Peta Kekuatan Perkembangan Awan Hujan”. Peta itu memvisualisasikan sebaran wilayah kekuatan perkembangan awan hujan berbentuk persentase yang terdiri jadi 2 kelompok, yakni kekuatan tinggi (>70 %) serta kekuatan sedang (50-70 %).

Turunnya hujan berimbas pada bertambahnya kualitas udara. Hujan yang turun dengan teori akan meluruhkan konsentrasi debu polutan yang mengapung di atmosfer, atau disebutkan proses rain washing. Waktu sesudah turun hujan, konsentrasi debu polutan memiliki ukuran kurang dari 10 mikron (PM10) bisa turun dengan mencolok sampai 6-8 kali lipat.

Karena insiden karhutla, konsentrasi paling timggi PM10 bisa sampai lebih dari 500 ug/m3 pada jam-jam tersendiri. Sekarang pada umumnya, konsentrasi PM10 ada pada level 50 – 100 ug/m3 terarah di Sampit, Pekanbaru serta Palangkaraya, kelompok sedang. Serta di Jambi serta Pontianak, kualitas udara sekarang digolongkan baik pada konsentrasi kurang dari 50 ug/m3.

Author

admin@poemascortosweb.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *